Company Review: GJTL

 PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) telah melaporkan peningkatan laba bersih pada Q1 2010 naik 183,64% karena pendapatan yang lebih tinggi dan laba selisih kurs. Laba bersih sebesar Rp246.48 miliar atau Rp77.37 per saham dibandingkan dengan rugi bersih Rp294.69 miliar atau Rp85 per saham di Q1 2009. Pendapatan naik 32,76% dari Q1 2009 Rp1.74 triliun menjadi Rp2.31 triliun pada tahun 2010. Perusahaan membukukan laba forex Rp77.37 milyar di Q1 2010 dibandingkan periode yang sama rugi forex dari Rp141.15 miliar. Laba kotor Gajah Tunggal naik dari 216,8 miliar menjadi Rp 460,8 miliar. Laba operasional naik dari Rp74.19 miliar pada Q1 2009 menjadi Rp 315.53 miliar di Q1 2010. Sementara, beban bunga Gajah Tunggal menyusut 42,08% dari Rp141.14 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp81.76 miliar pada Q1 2010. Hal ini menunjukkan kinerja operasional yang mengesankan. Margin keuntungan operasi, menunjukkan, kenaikan dari 4,27% pada Q1 2009 menjadi 13.63%. Gajah Tunggal, mencatat beban bunga yang lebih rendah.

Prospek

Permintaan kendaraan yang terus menanjak ikut berimbas pada makin prospektifnya industri ban. Tingginya permintaan bisa mengimbangi harga karet yang terus bergejolak.

Pada Lima bulan pertama tahun 2010 ini menunjukkan adanya kenaikan volume penjualan ban mobil domestik 46% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 20,6 juta ban dan volume penjualan ban sepeda motor naik 37% menjadi 15,4 juta ban.

GJTL, produsen ban sepeda motor IRC,  selama Januari-April 2010 memproduksi 6,46 juta unit, naik 27 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2009, yaitu 5,09 juta unit. Total penjualan sepanjang empat bulan pertama 2010 mencapai 6,41 juta unit, naik 26 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. PT Gajah Tunggal Tbk,  mentargetkan angka penjualan ban IRC roda dua sebesar 13 juta unit pada tahun ini, seiring kian menguat permintaan di pasar domestic. PT Gajah Tunggal Tbk (GT), berencana memperluas pasarnya dengan mengekspor ban sepeda motor. Hingga kini IRC masih mendominasi pasar ban sepeda motor nasional dengan pangsa 53,3 persen. Karena itu pula GT berencana membuat  merek dagang baru milik sendiri (non-IRC) untuk diekspor ke sejumlah negara, khususnya negara yang banyak populasi sepeda motornya di ASEAN.

Disektor ban mobil, selama ini, GT hanya mengekspor sekitar 80 persen produksi ban radial mobil ke berbagai Negara. Peningkatan pesanan ban radial dari Michelin meningkat dari 2 juta unit di 2009 menjadi 3-5 juta di tahun fiskal 2010-2011. Untuk itu PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) akan menganggarkan belanja modal sekitar US$30 juta hingga US$40 juta pada 2010 termasuk untuk maintenance, untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Pabrik baru PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), di Tangerang, yang akan beroperasi penuh pada 2012, akan meningkatkan kapasitas produksi ban Radial dari 30 ribu ban per hari menjadi 45 ribu ban. Kapasitas produksi ban sepeda motor juga akan meningkat dari 37 ribu ban per hari menjadi 105 ribu ban per hari.

Saat ini utilisasi, kapasitas produksi ban radial sekitar 35 ribu ban per hari atau 57%, ban sepeda motor sekitar 60 ribu per hari atau 78% dan ban bias untuk truk dan bus sekitar 12 ribu ban per hari atau 77%.

Pertumbuhan penjualan GJTL diprediksikan 15% hingga 20%. Pertumbuhan ini karena kenaikan volume dan harga.  Sementara itu, GJTL mengaku telah menaikkan harga jual ban 5-7,5 persen. Penyebabnya, harga karet naik di pasar internasional. Harga karet untuk pengiriman Juni naik ditutup pada level 355,00 yen per kg atau naik 5,10 poin dengan volume transaksi 41 ton. Pemicu lain kenaikan harga karet alam tersebut adalah naiknya permintaan untuk industri ban.

 

Profil Utang

Beberapa tahun belakangan ini, kinerja keuangan GJTL sering tertekan, yang salah satu faktornya adalah besarnya utang. Sehingga beban bunga dan kurs Rupiah yang melemah, akan menggerogoti laba usaha, yang pada akhirnya menekan laba bersih.

Salah satu exposure utang GJTL adalah terkait obligasi. Nilai obligasi tersebut mencapai US$430,2 juta. Obligasi yang jatuh tempo pada 2010 mendapatkan perpanjangan hingga 2014.. Bunga obligasi pun turun dari 10,25% menjadi 5% pada 21 Juli 2009 hingga 20 Juli 2011. Selain itu bunga obligasi jatuh tempo pada 20 Juli 2011 menjadi 6%,bunga obligasi yang jatuh tempo pada 20 Juli 2013 menjadi 8% dan bunga obligasi jatuh tempo pada 21 Juli 2013 menjadi 10,25%.  Peride pembayaran bunga berubah dari 6 bulan menjadi 3 bulan. Jaminan obligasi adalah aset senilai US$140 juta.

Posisi Debt Equity Ratio (DER) GJTL per Maret 2010 sebesar 2,2x, sementara laba usaha mencapai Rp. 315 miliar dan penjualan sebesar Rp. 2,3 triliun. Dengan restrukturisasi ini, diharapkan cash flow GJTL akan semakin membaik. Terbukti bahwa GJTL telah membagikan deviden tahun 2009.

Dengan harga saat ini Rp. 960, saham GJTL diperdagangkan pada P/BV 1,1x dengan Book Value Rp. 846 per saham. Sementara Price Earning Ratio masih sekitar 4x. Dengan perkiraan P/BV sekitar 1,8x, maka harga GJTL memiliki potensi mencapai level harga Rp. 1.700. Ini mewakili PER 7x.