Saham Kawasan Industri
Selasa, 14 Juni 2016 04:28

Seiring dengan langkah pemerintah dalam menggenjot investasi melalui berbagai deregulasi, proses perizinan investasi pun lebih mudah dan lebih cepat. Terlebih Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga sudah meluncurkan program Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK) untuk melengkapi paket kebijakan pemerintah itu. Salah satu perusahaan pengelola lahan industri yaitu PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencatat adanya peningkatan investor yang berminat pada lahan industrinya. (Baca juga: Benarkah Program KLIK BKPM Sudah Dirasakan Kawasan Industri?)

Lantas apakah ini akan berimpak positif pada saham perusahaan pengelola kawasan industri seperti BEST, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), PT Modernland Realty Tbk (MDLN) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)?

Sejak awal tahun, harga saham perusahaan pengelola kawasan industri masih tertekan karena sepanjang kuartal pertama 2016 membukukan pertumbuhan pendapatan yang negatif. Year-to-date saham BEST ambrol 8,14 persen, saham DMAS menyusut 4,19 persen, hanya saham KIJA yang melonjak 14,17 persen.

Padahal pendapatan KIJA yang turun paling dalam sepanjang kuartal I-2016 ini yaitu anjlok 16 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Meskipun begitu laba KIJA melonjak 69 persen.

 

Grafik: Pertumbuhan Kinerja Emiten Lahan Industrial Kuartal I-2016

Sumber: IDX, Bareksa.com

Grafik: Pergerakan Saham BEST, DMAS, KIJA dan LPCK periode 1 Januari - 10 Juni 2016

Sumber: Bareksa.com

Rendahnya realisasi pendapatan tahun ini akibat pra penjualan tahun lalu yang tertekan pelemahan ekonomi. Perusahaan kawasan industri memang baru mencatat sebagai pendapatan sekitar satu tahun setelah pra penjualan. Mulai adanya kenaikan permintaan lahan industri tahun ini tentu akan memberi dampak positif bagi kinerja keuangan tahun depan. Melihat prospek itu maka saham perusahaan kawasan industri mana yang layak untuk dicermati investor?

Dengan menggunakan rasio harga saham dengan laba bersih per saham (PER/ price to earning ratio), PER perusahaan kawasan industri saat ini di bawah rata-rata PER historis yang dapat mengindikasikan valuasi saat ini relatif lebih murah, berdasarkan proyeksi analis yang dirangkum dalam website Bloomberg. Saham BEST, KIJA dan LPCK masing-masing diperdagangkan dengan rasio PER tahun 2017 hanya sebesar 7,8 kali, 6,1 kali dan 4,6 kali. (np)

Grafik: Pergerakan Saham BEST, DMAS, KIJA dan LPCK


Sumber: Bareksa.com dan Bloomberg.com

 

Sumber: bareksa.com