ADRO
Kamis, 09 Juni 2016 00:49

Harga saham perusahaan batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) telah membukukan lonjakan yang signifikan sejak akhir bulan lalu, seiring dengan transaksi oleh investor asing. Lonjakan saham 31 persen selama enam hari perdagangan itu terdorong oleh sentimen positif dari kepastian dana proyek pembangkit listrik yang diharapkan menjadi tumpuan perusahaan di masa depan.

Harga saham ADRO pada perdagangan Selasa 7 Juni 2016, ditutup pada Rp910, naik 30,9 persen dibandingkan penutupan pada 30 Mei 2016 di level Rp695. Level penutupan kemarin juga merupakan yang tertinggi dalam setahun terakhir ini di tengah lesunya pasar batu bara global.

Kenaikan harga saham ini juga ditopang banyaknya transaksi saham ADRO. Tercatat selama satu pekan terakhir ini, saham ADRO ditransaksikan hingga Rp487 miliar. Nilai tersebut masih lebih tinggi dibandingkan transaksi ADRO sepanjang bulan Mei 2016 yang mecapai Rp450 miliar.

Lima broker asing terpantau sebagai pembeli terbesar saham yang bergerak di bidang pertambangan tersebut. Merrill Lynch (ML) adalah pembeli terbesar pertama. ML memborong 467 ribu lot saham ADRO pada harga rata-rata Rp837 per saham.

Pembeli terbesar kedua adalah CIMB Securities (YU) yang melakukan pembelian sebanyak 433 ribu lot saham, pada harga rata-rata Rp803,6 per saham. Selama sepekan terakhir, nilai transaksi YU di saham ADRO mencapai Rp34,4 miliar.

Macquarie Capital (BK) juga terpantau menjadi pembeli terbesar berikutnya. BK memborong 353 ribu lot saham, senilai Rp31 miliar. Di posisi keempat dan kelima adalah Citi Group Securities (CG) dan Morgan Stanley (MS) dengan nilai transaksi masing-masing mencapai Rp29,4 miliar dan Rp16,5 miliar.

Grafik: Pergerakan Harga Saham ADRO 1 Mei 2016 - 8 Juni 2016

Sumber: Bareksa.com

Manajemen ADRO mengumumkan kesepakatan pembiayaan (Financial Close) untuk proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2 x 1.000 MW di Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang dilakukan pada 6 Juni 2016. PLTU itu dibangun oleh konsorsium Bhimasena Power Indonesia (BPI), yang 34 persen sahamnya dipegang oleh anak usaha perseroan PT Adaro Power.

Konsorsium BPI akan menerima pembiayaan proyek sekitar US$3,4 miliar dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan sindikasi sembilan bank komersial, yaitu: SMBC, BTMU, Mizuho, DBS, OCBC, Sumitomo Trust, Mitsubishi Trust, Shinsei dan Norinchukin.

Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir mengutarakan kegembiraan perseroan mencapai tahapan tersebut meski mengakui sempat ada keterlambatan pelaksanaan proyek. "Kami berharap proses selanjutnya dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kami juga optimis dapat segera mencapai visi Adaro untuk menjadi grup perusahaan tambang dan energi Indonesia yang terkemuka serta mengembangkan salah satu dari penggerak pertumbuhan perusahaan,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bareksa pada hari ini 8 Juni 2016.

PLTU Batang 2X1000 MW merupakan proyek patungan Adaro Energy bersama dengan investor asal Jepang, J-Power dan Itochu. Proyek yang diklaim terbesar di Asia Tenggara senilai US$ 4 miliar tersebut telah menuntaskan perjanjian jual beli listrik dengan PLN selama 25 tahun

 

Sumber: Bareksa