Tsunami Jepang dan Arah IHSG PDF Cetak E-mail
Kamis, 24 Maret 2011 00:00

Terjadinya Gempa Bumi dan disertai tsunami di Jepang, tanggal 11 Maret 2011, menjadi bencana  bagi pasar modal global. Gempa dengan kekuatan 9 SR tersebut telah menyebabkan indeks Nikkei 225 turun lebih dari 20% dalam waktu 3 hari, sejak gempa terjadi. Bukan saja karena kerugian material yang menyebabkannya, tetapi juga kerugian psikis. Ledakan instalasi Pusat listrik tenaga Nuklir, menghantui dampak radio aktif bagi bisnis di Jepang, masa depan. Belum ada angka yang  pasti  berapa besar nilai kerugian yang diderita oleh Jepang, akibat Gempa dan tsunami ini. Angka    spekulasi dari perkiraan kerugian berkisar US$ 200 – US$250 miliar (3,6% - 4.6% dari GDP)

Posisi GDP Jepang saat ini diperkirakan US$ 5.474 miliar, atau mewakili sekitar 8% lebih  dari  GDP dunia sekitar US$ 61.000 miliar.

 

DATA GDP 2009 BEBERAPA NEGARA

 

Country

GDP Billion US$

GDP Growth

Interest Rate

United States

14256

2.80%

0.25%

Euro Area

12456

0.30%

1.00%

Japan

5068

-0.30%

0.00%

China

4909

9.80%

6.06%

Germany

3347

0.40%

1.00%

France

2649

0.30%

1.00%

United Kingdom

2175

-0.60%

0.50%

Italy

2113

0.10%

1.00%

Brazil

1572

0.70%

11.25%

Spain

1460

0.20%

1.00%

Canada

1336

0.80%

1.00%

India

1296

8.20%

5.50%

Russia

1231

2.70%

8.00%

South Korea

929

0.50%

3.00%

Australia

925

0.70%

4.75%

Sumber: Kompilasi dari data World Bank, IMF dan Sumber lain.

 

Dengan perkiraan kasar kerugian sebesar itu dan posisi Jepang terhadap perekonomian dunia, maka perekonomian global akan cukup tergoncang dan membutuhkan waktu bagi pemulihannya.

Bank sentral Jepang sendiri akan menggelontorkan dana sebesar ¥ 15 triliun atau sekitar US$ 182,4 miliar ke pasar uang. Likuiditas ini untuk mengurangi kekhawatiran pasar akan mundurnya perekonomian Jepang. Dana ini akan dikucurkan dalam dua periode. Sebanyak ¥ 12 triliun akan dikucurkan pada secepatnya tanggal 14 Maret, dan sisanya akan dikucurkan Rabu (17/3). Kucuran dana ini untuk menalangi industri yang terkapar akibat bencana tersebut.

Bagi Indonesia, Jepang merupakan tujuan utama ekspor Indonesia. Tahun 2007, Ekspor Indonesia ke Jepang senilai US$ 23.6 milyar (statistic Pemerintah RI), sedangkan impor Indonesia dari Jepang adalah US$ 6.5 milyar. Selama 2010, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang menembus US$ 16,49 miliar dan berada pada peringkat pertama negara tujuan ekspor Indonesia. Pada Januari 2011, nilai ekspor nonmigas ke Jepang adalah sebesar US$ 1,21 miliar atau 10,13% dari total ekspor nonmigas. Komoditi penting yang diekspor ke Jepang antara lain, minyak, gas alam cair, batubara, hasil tambang, udang, pulp, tekstil dan produk tekstil, mesin, perlengkapan listrik, dll. Sedangkan yang di impor dari Jepang antara lain, mesin-mesin dan suku-cadang, produk plastik dan kimia, baja, perlengkapan listrik, suku-cadang elektronik, mesin alat transportasi dan suku-cadang mobil.

Dengan demikian, perlambatan ekonomi Jepang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia. Jika penanganan pemulihan Jepang ini lambat, maka akan juga mengganggu kinerja ekspor Indonesia.

 

Yang lebih dikuatirkan sebenarnya, efek domino dari bencana Jepang ini terhadap pemulihan ekonomi global, yang pada gilirannya akan menghambat pembangunan ekonomi Indonesia. Mitra dagang dan industry manufaktur, jasa keuangan Jepang, tentu bukan hanya Indonesia saja. Bisa saja AS, Inggris, Jerman, China dan Negara lain juga terpukul dari bencana ini, dan pada gilirannya akan juga memukul permintaan dari Negara-negara tersebut terhadap produk-produk dari Indonesia. Belum ada angka yang pasti dari semua ini.

 

ARAH IHSG

Data-data ekonomi Indonesia serta kinerja emiten yang terakhir menunjukkan pertumbuhan yang bagus. Sementara scenario proyeksi pertumbuhan ekonomi kedepan diproyeksikan masih cukup kuat. Kekuatan pasar dan daya beli domestic masih bisa diandalkan dengan arah kebijakan menekan laju inflasi secara intensif. Dengan adanya, bencana Jepang ini, maka andalan pasar domestic, diperkirakan akan memberi kontribusi yang positif.

Beberapa emiten yang mengandalkan pasar domestic, seperti UNVR, PTBA, TLKM, ASII, BMRI, BBRI, GGRM, PGAS, JSMR dll, diprediksi masih cukup kuat menahan laju kenaikan bagi IHSG kedepan. Mayoritas produksi dan distribusi emiten-emiten tersebut dominan ke pasar domestik. Masih banyak saham-saham yang memiliki valuasi yang masih menarik

Dari grafik di bawah ini, IHSG masih cukup kuat berada pada trend kenaikan. Level support berada pada angka sekitar 3.400. Rentang fluktuasi IHSG berada pada kisaran 3.300 – 3.800. Tetapi secara jangka menengah, IHSG akan mencoba menembus rentang ini menuju ke level 4.200an. Dukungan indicator MACD, yang saat ini berada pada area positif memberi keyakinan target tersebut.